Sejarah SPA

Setiap manusia mempunyai keinginan untuk mempertahankan hidup dan berusaha dengan sekuat tenaga untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik, hal ini merupakan naluri yang sangat kuat dalam diri manusia. Masyarakat di Indonesia sejak jaman dahulu kala sudah mengenal perawatan tubuh untuk mempertahankan kondisi kesehatan tubuh dan meningkatkan kualitas kesehatan dengan cara yang sangat sederhana. Perkembangan perawatan tersebut sejalan dengan perkembangan tradisi budaya dan ilmu pengetahuan masyarakat tersebut. Perawatan-perawatan tersebut diwariskan secara turun temurun sehingga sampai pada generasi sekarang yang kita kenal sebagai perawatan tradisional.Perawatan tradisional di Indonesia bersifat holistik /menyeluruh artinya perawatan tubuh yang memperhatikan keseimbangan jiwa raga dan sukma dan nenek moyang kita telah mengajarkan bahwa kita selalu harus berusaha untuk meningkatkan corak dan kualitas baik sebagai makhluk pribadi, individu maupun sebagai makhluk sosial yang harus dikembangkan secara selaras, seimbang, dan serasi agar menjadi seorang manusia yang utuh. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan usaha perawatan tubuh yang tidak hanya terbatas pada fisik saja, namun jiwa , spiritual, dan sosial.

Untuk melihat bukti sejarah sebagai cikal bakal Spa secara fisik kita bisa melihat data-data sebagai berikut:

1. Pada relief Candi Borobudur yang didirikan pada tahun 824. Suatu relief dari candi tersebut menggambarkan kehidupan Budha, dimana mempersiapkan mandi di kolam yang dipenuhi bunga-bunga serta berbagai macam ekstrak tumbuh-tumbuhan. Pada relief yang lain menunjukkan tubuh ratu Maya, tangan dan kaki sedang dipijat oleh para dayang-dayangnya

2. Candi Prambanan merupakan Candi yang didirikan pada tahun 781-872. Ada sketsa yang menunjukkan upacara pemandian untuk penyucian, juga pemijatan serta pemberian obat dari tumbuhan.

3.Raja Erlangga; yang pada abad ke-IX membangun tempat pemandian di Jalatunda sebagai tempat berendam diri yang disebut “ tapa ngambang”, guna membersihkan diri, meningkatkan keseimbangan jiwa, dan raga.

4. Tempat pemandian di situs Keraton Majapahit, terdapat candi Tikus dan Kolam Segaranyang dibangun pada abad ke-XIV, yang digunakan untuk membersihkan diri dan mencapai keseimbangan jiwa, dan raga. Tempat mandi laki-laki dan perempuan dipisahkan dalam dua bilik kecil. Di luar bilik terdapat lapangan cukup luas untuk latihan keprajuritan.

5. Di Kota Jogyakarta terdapat tempat pemandian Taman Sari, yang dibangun tahun 1789 oleh seorang arsitek Portugis atas permintaan Sri Sultan Hamangku Buwono I dari Jogyakarta. Tempat pemandian tersebut diperuntukkan bagi Raja dan kerabatnya, dan berfungsi sebagai tempat mensucikan diri, menyehatkan jiwa dan raga, serta tempat berekreasi. Disamping itu kompleks Taman Sari juga digunakan sebagai tempat beribadah; kantor pemerintahan dan benteng pertahanan.

6. LANGENHARDJO di Sukohardjo 1870,

7. UMBUL PENGGING, Merupakan tempat pemandian keluarga kerajaan yang mata airnya tanpa henti walaupun dimusim kemarau. Terdapat 3 tempat pemandian besar yang akhirnya menjadi kolam pemandian yang bernama Umbul Temanten, Umbul Ngabean, Umbul Sungsang.

8. SENDANG TARUB di Jawa Tengah. Sedang Tarub terletak di desa Tarub di Jawa Tengah. Dahulu sendang itu menjadi tempat pemandian para bidadari. Setiap kali tampak pelangi yang melengkung ke sendang, itu pertanda bahwa para bidadari sedang turun dari kahyangan melalui pelangi menuju sendang Tarub untuk bercengkrama mandi beramai-ramai. Air sendang yang jernih kemilau dan tepi sendang yang ditumbuhi bunga-bungaan yang beraneka warna serta hutan yang tertata alami dan tampak indah sekali semua itu menjadi daya pesona yang tiada bandingnya dengan sendang-sendang lainnya dimanapun. Tumbuh-tumbuhan yang berserak ditepi sendang terdiri dari tanaman yang mengandung khasiat menyembuhkan segala penyakit sehingga air sendang juga menjadi obat mujarab bagi siapapun yang menginginkan.

Sendang Tarub selanjutnya menjadi tempat bercengkrama berdua bagi Nawangwulan sekaligus untuk melepas rindu kepada para bidadari yang pernah bersama-sama mandi disendang itu

9. TIRTA EMPUL TAMPAKSIRING, Bali. Menurut cerita rakyat yang berkembang, pemandian ini sudah ada sejak Jaman Kerajaan Bedaulu – sekarang disebut Gianyar – beberapa abad yang lalu. Yang dipimpin oleh seorang Raja yang bernama Mayadenawa. Raja ini terkenal kesaktiannya dan kekejamannya dimana tak satu orangpun yang berani menatap langsung wajah Raja termasuk anggota keluarga kerajaan sendiri, apabila dilanggar mendapat hukuman mati. Hingga pada suatu saat Mayadenawa meracuni semua mata air, sungai-sungai, tempat mandi dan sumur-sumur, akibatnya para penduduk banyak yang mati jika minum dan jadi penyakit kulit jika pakai mandi. Untuk ini Wisnu juga mengajak rakyat ke suatu tempat yang terlindung dan sembunyi dan ditempat itu ditancapkanlah kerisnya ketanah dan begitu dicabut muncrat air yang sangat bening dan bisa menyembuhkan penyakit yang diderita rakyat akibat ulah Mayadenawa. Nah tempat itu dinamakan Tirta Empul yang artinya ‘Air Mumbul’.

Pada suatu hari perang dihentikan sementara agar dapat menghimpun kekuatan masing-masing. Kesempatan ini digunakan oleh Wisnu. Kebetulan Mayadenawa mengundang para orang sakti yang mendukungnya dan seperti biasa mereka diijinkan minta makanan apa saja sebagai jamuannya. Nah Wisnu merubah diri jadi pendeta sakti dan sebagai jamuannya dia minta disajikan sayur kacang panjang yang harus utuh. Pada saat di jamu oleh raja, Wisnu yang sudah berubah rupa jadi pendeta itu, makan sayur kacang panjang dengan cara memegang ujung sehingga karena panjang dia harus mendongak, dengan cara ini akhirnya Wisnu bisa mengetahui rupa Raja tersebut yang sebenarnya. Ternyata Raja Mayadenawa berkepala Babi. Wisnu akhirnya menemukan jalan keluarnya bagaimana mengalahkan Mayadenawa.

Ditempat dimana Wisnu menancapkan Kerisnya oleh masyarakat didirikanlah pura untuk memuja dewa Wisnu sebagai Pelindung, yang bernama Pura Tirta Empul dan alirannya ditampung dan dibuat tempat permandian untuk masyarakat sekitarnya sampai saat ini tempat itu banyak dikunjungi oleh seluruh masyakat Bali untuk membersihakn diri secara lahir dan bath n.

10. TOYA BUNGKAH, Batur- Kintamani, Bali. Adalah tempat permandian umum yang diketemukan sekitar jaman revolusi di Kintamani bali

11.Seperti daerah-daerah lainnya di Indonesia, Kepulauan Maluku memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan tidak dapat dilepaskan dari sejarah Indonesia secara keseluruhan. Kawasan kepulauan yang kaya dengan rempah-rempah ini sudah dikenal di dunia internasional sejak jaman dahulu kala. Pada awal abad ke 7 pelaut-pelaut dari china, khususnya pada Zaman dinasti Tang, kerap kali mengunjungi Maluku untuk mancari rempah-rempah. Pada abad ke 9 pedagang Arab berhasil menemukan Maluku setelah mengarungi Samudera Hindia. Para pedagang ini kemudian menguasai Eropa melalui kota-kota Konstantinopel.

Pada Abad ke 14 adalah merupakan masa perdagangan rempah-rempah Timur Tengah yang membawa agama Islam masuk ke kepulauan Maluku melalui pelabuhan Aceh, Malaka, dan Gresik antara 1300 sampai 1400. Pada abad ke 12 wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya meliputi Kepulauan Maluku . Pada awal abad ke 14 Kerajaan Majapahit menguasai seluruh wilayah laut Asia Tenggara. Pada waktu itu para pedagang dari Jawa memonopoli perdagangan rempah-rempah dari Maluku.

Bukti – bukti sejarah tersebut diatas membuktikan bahwa masyarakat Indonesia telah lama mengenal perawatan tubuh dan melakukan perawatan tubuh secara turun temurun. Perawatan tubuh telah merupakan bagian tradisi dan kehidupan sosial budaya dan menjadi gaya hidup yang didasarkan pada kedekatan dengan alam semesta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s